Naiki Punggung Unta



Keberangkatan menuju kaki tebing

Nama Bukit Batu Daya atau yang lebih dikenal Tebing Unta memang sudah akrab didengar tapi tak kunjung dikelola sebagai destinasi wisata. Saat ini Bukit Batu Daya yang berstatus Hutan Lindung sedang dalam proses menjadi Taman Wisata Alam. Jika melewati jalan Trans Kalimantan dari Simpang Dua hingga Sungai Laur sesekali batu raksasa yang berdiri kokoh menyerupai Unta ini akan terlihat mengintip menarik perhatian. Bukit Batu Daya merupakan batu terbesar kedua yang ada di Kalimantan Barat setelah Bukit Kelam yang merupakan batu terbesar di dunia. Namun sangat disayangkan jika dibandingkan dengan teman sejawatnya Ayers Rock di Australia, pengelolaan destinasi wisata keduanya sungguh berbanding terbalik.

Bukit ini diberi nama Batu Daya karena jika dilihat dari sudut pandang berbeda mampu memperdaya mata ketika melihatnya. Ternyata dari sudut pandang yang berbeda itu Batu Daya akan tampak seperti Unta dan Gantang sebagaimana gelar yang diberikan untuk bukit tersebut. Menurut cerita rakyat setempat, konon dulunya ada seekor kera putih yang hidup di Bukit Batu Daya. Suatu ketika kera putih itu memakan telur elang yang membut elang mengamuk dan kemudian mengais batu hingga terpental jauh dan akhirnya jatuh menjadi Bukit Kuri di Desa Sinar Kuri. Cerita yang saling terkait ini sudah dikonfirmasi dari kedua desa tersebut.

Batu Daya terdiri dari tiga batu raksasa yang berdampingan, masyarakat Desa Batu Daya yang bersuku asli Dayak Lambo Setungkung ini menyebutnya Batu Daya, Kuang Kandek dan Belah Hulu. Masing-masing batu itu memiliki tinggi dan bentuk yang berbeda namun jadi satu kesatuan dinamai Bukit Batu Daya. Batu yang paling besar dan tinggi yaitu Batu Daya 930 mdpl, kemudian Kuang Kandek 920 mdpl yang berada ditengah dan Belah Hulu 780 mdpl yang berbentuk paling menarik dari tetangganya karena diatas batu ada batu yang menyerupai Ka’bah. Dari tiga batu raksasa tersebut khususnya untuk olahraga alam panjat tebing, teknik tyrolean traverse akan memudahkan perpindahan puncak tanpa semua pemanjat harus turun (rappeling). Selain itu sensasi berjalan diatas tali untuk melatih keseimbangan (slackline) mungkin akan dapat dirasakan jika ingin mencobanya karena medan Tebing Unta mendukung untuk dapat melakukannya.

Persiapan Upacara Adat

Sampai saat ini sudah beberapa kali pemanjat baik lokal maupun mancanegara yang datang menjajal kemampuan panjat tebing mereka untuk naik di punggung unta, dari jatuh biasa hingga menghilangkan nyawa sebagai bagian dari resiko olahraga ekstrem sudah terjadi di Tebing Unta. Oleh karena itu masyarakat Desa Batu Daya yang sebagian besar menghuni Dusun Keranji sangat berharap tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan ketika pemanjatan. Untuk memenuhi harapan itu selain berdoa menurut agama masing-masing, juga ada upacara adat yang harus dilalui untuk menghormati budaya setempat. Ada dua jenis upacara adat yang dilakukan : Pertama, upacara yang dilangsungkan di desa dipimpin oleh Ketua Adat dengan tujuan mendoakan keselamatan untuk pemanjat serta masyarakat Desa Batu Daya; dan kedua, upacara yang dilakukan di kaki tebing tepatnya di start jalur pemanjatan dilakukan oleh Dukun Desa dengan maksud membuka jalan bagi pemanjat agar dimudahkan dalam pemanjatan. Untuk dua upacara itu, pemanjat dibebankan biaya adat sesuai dengan kebutuhan peralatan dan perlengkapan upacara adat. Itulah budaya yang harus dilestarikan dan dihormati di Desa Batu Daya.

Sajian Upacara Adat

MPA-U. 0910278/TB

Berita lainnya :

Tebing Alam Kalimantan Barat

Dua Pemanjat Jepang Siap Jajal Tebing Unta

Pernah Gagal, Obhu Masih Penasaran Taklukkan Tebing Unta

Bukit Batu Daya (Tebing Unta) / Camel Hill – A Unique Rock in West Kalimantan

Anak Unta alias Laban Tujuh

Share Button